KEBUDAYAAN ISLAM DAN RUBAHANNYAA.
Islam Suatu Sistem Budaya
Agama merupakan sistem budaya dan oleh karena itu bersifat simbolik,sebagai
model untuk realitas, agama pun tidak dapat di penetrasikan secara
eksperimental tetapi hanya secara interpretatif. Dalam agama, konsepsi manusia
mengenai realitas tidak didasarkan pada pengetahuan tetapi pada keyakinan
terhadap suatu otorita, yang berbeda antara agama yang satu dengan agama yang
lain. Dalam agama monotheistik, otoritas ini adalah Tuhan dengan semua wahyu
yang diturunnkan oleh- Nya. Sedangkan dalam agama “primitif “ otoritas adalah
roh (spirit) dan kekuatan gaib (magic).Jadi, konsep- konsep untuk realita
mengalami suatu perubahan yang paralel. Menurut konsepsi islam ortodoks, wahyu
al- qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad itu merupakan kebenaran akhir,
yang valid untuk segala waktu, semua agama dan seluruh kemanusiaan. Dalam
intepretasi ini, agama islam tidak dapat diubah dan tidak dapat disesuaikan
dengan realitas apapun, karena agama islam merupakan agama terakhir yang di
turunkan kepada Nabi terakhir (“Khatam an- nabiyin” QS: 33: 40). Isi agama yang
sering, yang selalu disampaikan dengan pola-pola budaya, menurut Geertz,
memiliki aspek ganda: Isi agama itu memberikan arti pada berbagai realitas sosial
dan psikologis bagi para pengaut- penganutnya, yang demikian mendapatkan “suatu
bentuk konseptual yang obyektif “, isi agama itu terbentuk oleh realitas dan
pada saat yang sama membentuk realitas itu sesuai dengan isi agama itu. Dalam
bidang ilmu kebudayaan yang lebih independen dan juga dalam sosiologi dan
antropologi budaya atau study kesusastraan, pembaca dihaadapkan dengan berbagai
macam study dalam kategori ini. Evaluasi mengenai kesustraan ini sebenarnya
menjadi tugas tersendiri. Dalam kontek antropologi interpretatifnya, upaya
geertz untuk memeahami agama sebagai suatu sistem yang terdiri atas berbagai
simbol yang memberikan arti. Menurut Geertz agama adalah suatu sistem simbol
yang bertindak untuk menetapkan dorongan hati dan motivasi yang kuat, menembus,
dan bertahan lama pada manusia dengan cara memformulasikan berbagai konsep
tentang suatu tatanan umum dari yang hidup dan mewarnai konsep- konsep ini
dengan aura fakyualitas sehingga (dorongan hati dan motivasi itu tampak sangat
realistik). Dari inteprestasi Geertz terdapat pada asumsi bahwa agama sebagai
suatu sistem budaya yang mengandung konsep- konsep tentang suatu tatanan umum
keberadaan yang penting bagi orang- orang yang beriman dalam suatu komunitas
agama tertentu.
B. APAKAH ISLAM? ISLAM DULU DAN
KINI
Seorang muslim ortodoks akan menjawab pertanyaan apakah islam itu dengan
cara mengatakan bahwa islam terdiri atas firman- firman yang termuat dalam al-
qur’an dan hadits Nabi Muhammad serta 5 sendi:
1. Shahada ( pengakuan akan
keesaan Tuhan dan Kenabian Muhammad).
2. Sembahyang atau sholat ( lima kali
dalam satu hari satu malam)
3. Puasa atau siyam ( dalam bulan ramadhan )
4.
Membayar zakat ( pemberian untuk orang miskin )
5. Hajji (Ziarah ke mekkah )
Namun demikian agama juga merupakan sebuah realitas sosial, yang terdiri atas
suatu sistem yang simbolik yang beragam secara kultural dan yang berubah
menurut sejarah. Sebenarnya al-qur’an mengakui adanya manusia yang berbeda-beda
sebagaimana yang ditunjukkan dalam al- qur’an (49 : 13); “ Dan kami telah
menciptakan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku- suku agar kamu saling kenal-
mengenal. Seperti agama monolitik lain, islam bersifat universalis. Dalam kurun
perkembangannya islam telah dianut oleh banyak non- arab dan non- bahasa arab
di afrrika dan asia. Selama penggal sejarah timbulnya islam, peradapan dunia
meliputi dua kerajaan yaitu: Sasanid Persia dan Bizantin Roma. Ada juga gerakan
islam pada masa sejarah yaitu” Gerakan Wahabi “ Menurut orang Orientalis R.
Hartmann menegaskan bahwa gerakan wahabi ini adalah suatu gerakan keagamaan
tidak lebih dari suatu reaksi alam terhadap adaptasi islam dengan kondisi
budaya yang kompleks, yang jelas telah menyebabkan melemahnya ide-ide inti dari
pendiri agama dan yang menunjukkan proses “ Westernisasi” suatu reaksi, yang
didasarkan pada empat mazdhab dalam sunni yaitu mazdhab Ahmad b. Hanbal yang
harus dipahami dalam kaitannya dengan masyarakat yang ada di arab, yang sulit
untuk dirubah dengan cara apapun sejak pada zaman Nabi. Disamping konsep
tentang islam yang bersifat kuno (archaik ) dan modernis sejak pergantian abad
itu juga terdapat gerakan yang mengarah pada sekulaisme islam.
C. PENEGAKAN AGAMA ISLAM DAN
SASARAN PENGEMBANGANNYA
Situasi historis saat islam datang ditandai oleh tidak
adanya kesatuan. Karena pada saat itu kerajaan besar islam yaitu Byzantin dan
Sasanid di Persia dalam kondisi perang. Setelah Nabi Muhammad hijrah dari
Mekkah sebagai akibat dari penganiayaan politik pada tahun 622, maka beliau
mendirikan struktur politik islam yang pertama, yang prinsip- prinsip dasarnya
diletakkan pada “aturan kota mekkah “(municipal code of madinah) Sejarawan
internasional keenam dalam bidang islam pada masa awal, yaitu W. Montgomery
Watt, menegaskan bahwa aturan baru itu “pada hakikatnya menunjukkan suatu
perjanjian aliansi sesuai dengan prinsip- prinsip arab tradisional...selain
itu, masuk kedalam aliansi itu menjadi persyaratan utama untuk mengadopsi
islam....Muslim non arab menjadi orang yang dibela oleh suku-suku arab,
Kelompk-kelompok non muslim menjadi “ minoritas yang dilindunngi”....Ditegaskan
dalam dua pasal bahwa dalam peristiwa terjadinya pertentangan yang dapat
mengakibatkan perpecahan dalam komuitas, maka masyarakat harus kembali kepada “
Allah dan Muhammad” Di dalam islam ada beberapa firqoh-firqoh yang satu sama
lain bertentangan pahamnya secara tajam yang sulit untuk diperdamaikan. Hal ini
sudah menjadi fakta dalam sejarah yang tidak bisa diubah lagi, dan sudah
termaktub dalam kitab-kitab agama, terutama dalam kitab usuluddin. Dalam kitab
Bugyatul Murstarsyidin, karangan Mufti Syaikh Sayid Abdurrohman Bin Muhammad
bin Husain bin Umar, yang dimasyhurkan dengan gelar Ba’ Alawi, pada pagina 398,
cetakan Mathba’ah Amin Abdul Majid Cairo (138), bahwa 72 firqoh yang sesat
berpokok pada 7 firqoh, yaitu :
1. Kaum Syi’ah, kaum yang berlebih-lebihan
memuja Saidina Ali Karamllahu Wajhahu, kaum syi’ah kemudian berpecah menjadi 22
aliran.
2. Kaum Khawari yaitu kaum yang berlebih-lebihan membenci Syaidina
‘Ali, kaum khawari kemudian berpecah menjadi 20 aliran.
3. Kaum Mu’tazilah
yaitu kaum yang berpaham bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, bahawa manusia
membuat pekerjaannya sendiri, bahwa Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata dalam
syurga, bahwa orang yang mengerjakan dosa besar diletakkan di dua tempat, dan Mi’roj
Nabi hanya dengan ruh saja, dll.Kaum mu’tazilah berpecah dalam 20 aliran.
4.
Kaum Murji’ah yaitu kaum yang menfatwakan bahwa membuat ma’siat tidak memberi
madharat kalau sudah beriman, sebagai keadaannya membuat keajaiban tidak
memberi manfaat kalau kafir.
5. Kaum Najariyah, yaitu kaum yang menfatwakan
bahwa perbuatan manusia adalah makhluk, yakni dijadikan Tuhan, tetapi mereka
berpendapat bahwa sifat Tuhan tidaka ada. Kaum Najariyah pecah menjadi 3
aliran.
6. Kaum Jabariyah, yaitu kaum yang menfatwakan bahwa, manusia “majbur”,
artinya tidak berdaya apa-apa. Kaum ini hanya 1 aliran’
7. Kaum Musyabbihah,
yaitu kau yang menfatwakan bahwa ada keserupaan Tuhan dengan manusia. Kaum ini
hanya 1 aliran saja.
D. SUMBER-SUMBER KEAGAMAAN
DOKTRIN ISLAM TENTANG PEMBANGUNAN
Tidak hanya para ahli yang menyadari bahwa
al-qur’an diakui oleh semua muslim sebagai sumber islam yang utama, tapi tidak
hanya pada al-qur’an saja karena kita sebagai orang muslim sumber ajaran yang
dipakai adalah al-qur’an dan sunnah. Dengan bersandar pada al-qur’an dan
sunnah, islam menginterpretasikan dirinya tidak hanya sebagai suatu agama
monoteistik, tetapi juga sebagai suatu aturan legeslatif yang dipahami dalam
konteks teosentris. Syari’ah hukum islam merupakan bagian dari inti keyakinan ini.
Menurut doktrin islam pembangunan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan
datang muncul dari sumber keagamaan ini. Maka interpretasi hubungan antara
islam dengan pembangunan tidak ada yang dapat menghindari analisis tentang arti
penting al-qur’an dan sunnah, serta syari’at. Arti penting Al-qur’an bagi kaum
muslim sebagai sumber dari persepsi mereka tentang pembangunan masa lalu, masa
kini, dan masa yang akan datang hanya dapat dipahami dan posisinya yang
sesungguhnya hanya dapat diketahui dengan cara memahami ajaran islam, yang
menurut ajaran islam Al-qur’an merukakan firman Allah SWT baik dalam bentuk
maupun isinya.
E. PERKEMBANGAN ISLAM MASA KINI
Dalam perkembangan islam pada masa kini ajaran islam berkembang dengan dilatar
belakangi dengan beberapa faktor diantaranya adalah : ♦ Berkembangnya
lembaga- lembaga islam Di dalam lembaga- lembaga islam juga terdapat lembaga-
lembaga non formal diantaranya :
a. Kuttab sebagai lembaga pendidikan
dasar (tempat belajar menulis)
b. Pendidikan rendah di istana
c. Toko-toko
kitab
d. Rumah-rumah para ulam’ (ahli ilmu pengetahuan)
e. Majlis atau salon
kesusastraan
f. Badi’ah ( padang pasir, dusun tempat tinggal badwi)
g. Rumah
sakit h. Perpustakaan
i. Masjid Dalam perkembangan islam telah melahirkan
pendidikan- pendidikan islam di dunia.
Dalam pendidikan islam terdapat aliran-
aliran pemikiran dalam islam yang terbagi menjadi dua aliran, Aliran Rasional
dan Aliran Tradisional :
a. Aliran Rasional adalah aliran yang
memepercayai sunnatullah (natural law), funsi akal yang tinggi, dan kebebasan
manusia, menekankan pada nilai-nilai universal yang ditekankan oleh al-qur’an,
ayat yang kontradiksi dengan akan ditafsirkan dengan takwil. Aliran ini adalah
Qodqriyqh, Mu’tazilah, dan Syi’ah.
b. Aliran tradisional adalah aliran yang
tidak terlalu meyakini sunnatullah sebagai suatu ketentuan, sebab Allah bisa
saja melakukan sesuatu di luar hukum alam (natural law), kedudukan akal tidak
terlalu tinggi, sebab akal manusia selalu menyimpang dan menuruti hawa
nafsunya. Pengendali manusia dalam segala perbuatannya adalah Allah, takwil
dilakukan tapi tidak terlalu jauh dari teks ayat. Aliran ini adalah Asy’ariyyah
dan Maturidiyyah.
F. PUNCAK KEMAJUAN ILMU DAN
KEBUDAYAAN ISLAM
Berkembangnnya ilmu pengetahuan dan kebudayaan islsm, adalah
sebagai akibat dari berpadunya unsur-unsur pembawaan ajaran islam dengan unsur-
unsur yang berasal dari luar Henry Margenan dan Dan David Berggamini, dalam The
Scientish sebagaimana diolah oleh Jujun S. Suriasumantri, telah mendaftar
sederetan cabang ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan sebagai hasil
perkembangan pemikiran dan ilmiyah dikalangan kaum muslimin pada masa jayanya,
yang kemudian secara berangsur-angsur berpindah ke dunia barat, sebagai
berikut:
1. Dalam bidang Matematika
2. Dalam bidang Fisika
3. Dalam bidang
Kimia
4. Dalam bidang Astronomi
5. Dalam bidang Geologi
6. Dalam bidang Biologi
7. Dan Dalam Bidang Sosial
Dalam masyarakat pada umumnya islam telah
mempersembahkan kepada dunia, suatu tinkat budaya tinggi yang menjadi mencusur
budaya umat manusia beberapa abad sesudahnya. Dalam bentuk sulaman, seni
ukiran, nampak dalam bentuk keindahan ukiran kayu dan marmar yang digunakan
dalam berbagai bangunan masjid dan istana-istana, dalam bentuk permadani serta
barang- barang tenunan yang indah yang terkenal pada masa itu. Seni musik dan
seni lukis, apalagi seni sasteranya, dunia islam dihiasi dengan serba keindahan
yang mempesona dunia pada masanya. Dalam kemajuan islam telah melahirkan
pemikiran- pemikiran intelektual bagaimana islam masih dapat berkembang di
dunia modernisasi, karena makin besarnya pengaruh arus modernisasi tak mungkin
islam mengelak dari zaman modern saat ini, maka dari itu islam memberikan
pendidikan tentang Membangun Manusia Modern yang Qur’aini. Seperti yang telah
dikatakan oleh Yusuf : bahwa kehadiran islam bukan untuk dirinya sendiri,
tetapi untuk seluruh umat manusia. Kalau Ahl al- Kitab sudah beriman, mereka
akan menjadi muslim, sebab mereka sudah memiliki persiapan ke arah islam.
Sayang sekali tidak demikian, tetapi itu tidak itu tidak akan merugikan orang
yang membawa panji keimanan dan kebenaran, yang akan selalu mendapat kebenaran.
Sebagaimana Al-qur’an telah memberi bimbingannya, diantaranya :
1.
Memiliki tanggung jawab pribadi dan sikap jujur
2. Menunda kesenangan sesaat
demi kesenangan adadi
3. Pemanfaatan waktu dan etos kerja
4. Keyakinan bahwa
keadilan dapat diratakan
5. Penghargaan yang tinggi pada ilmu pengetahuan
Demikianlah dunia islam dimasa
jayanya, yang dihiasi dengan berbagai unsur budaya dan ilmu pengetahuan yang
beraneka ragam dapat diibaratkan sebagai taman yang indah penuh dengan berbagai
macam tanaman dengan buah dan bunga yang beraneka warna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar